Masing-masing kita penuh kepura-puraan. Tak perlu disalahkan. Memang sudah kodrat. Pada dasarnya semua demi kebaikan.
“Untuk menghargai perasaan orang lain. Atau untuk menyelamatkan harga diri kita.”
Sebenarnya, siapa peduli dengan diri kita sesungguhnya. Selama kita hidup tanpa mengganggu orang lain, tanpa menyakiti perasaan. Berpura-pura pun tak ada yang melarang.
Pura-pura. Sebenarnya mungkin menjadi cara bertahan hidup paling gampang. Cara beradaptasi paling mudah. Jangan disalahkan karena tidak menjadi diri sendiri. Siapa peduli dengan menjadi diri sendiri atau tidak selama orang lain nyaman dengan kita.
Seperti pedagang, tugas kita adalah memuaskan konsumen. Bagaimana mereka menyukai produk kita. Dan bagaimana kita menariknya menjadi pelanggan.
Karena kita harus bertahan hidup.
Kita memang sedang pura-pura. Kita tertawa dengan perkataan orang baru, bukan karena lucu, tapi agar mereka menerima kita. Kita terus-menerus tersenyum, memasang wajah ramah, sekali lagi agar kita diterima. Kita bertanya untuk sesuatu yang sebenarnya tak ingin tahu, agar memiliki kesempatan untuk semakin dekat. Menjaga sikap didepan orang banyak, agar mereka terkesan.
Sebenarnya, didunia belahan mana manusia tak hidup dengan modus? Selalu ada alasan di balik semua sikap dan perilaku. Sedang, tak semu orang menganggap menyenangkan perilaku kita.
Tapi, kepuasan konsumen bukan hanya karena produk. Bagaimana sikap kita melayani. Bagaimana kita memasukkan perasaan pada kegiatan jual beli.
Sampai percaya pada seseorang, pura-pura akan tetap menjadi satu-satunya pilihan. Berpura-pura diawal, dan menjadi diri sendiri pada akhirnya, kepada yang telah mengenal dan memahami.
Pada suatu saat, kita memang sedang pura-pura. Bukan berarti kita hidup dengan kepura-puraan. Kita menganggap pura-pura itu perlu. Dan pada saatnya, kitapun tak menganggap perlu pura-pura. Ketika kita yakin orang lain akan menerima apapun keadaan kita.
Atau kau tak menganggap itu kepura-puraan?
Jadi siapa kita? Kita adalah aku dan aku. Dan, ya.. Aku sedang pura-pura.