Sabtu, 28 Maret 2020

KONTROL DIRI, PRASANGKA BAIK DAN PERSAUDARAAN

0

Kita semua tentu sepakat, materi akan lebih lama menempel di otak dan sanubari siswa jika diserta dengan penerapan pada kehidupan sehari-hari. Selain itu peran dari orang tua, keluarga, teman dan lingkungan sekitar juga sangat mempengaruhi perilaku siswa.

berikut ini adalah beberapa dokumentasi kegiatan siswa SMKN 1 TRENGGALEK sebagai wujud perilaku kontrol diri, prasangka baik dan husnudhan.



Selasa, 02 Agustus 2016

0



Hari ini aku berbincang denganmu.
Bahwa menjalin hubungan adalah tentang belajar. Belajar meminta maaf. Belajar berterimakasih.
Untuk menjadi bahagia, seringkali lebih baik tidak terlalu berharap. Harapan yang terlalu tinggi, hanya akan menjadi tirai atas kebahagiaan yang sebenarnya sudah didepan mata.
Setiap kita, mempunyai harapan dicintai. Sedang, setiap kita, punya cara sendiri dalam mencintai. Setiap kita, punya cara sendiri dalam mengungkap rasa.
Hari ini aku belajar, memutus harapan yang terlalu. Menerima ungkapan rasa dengan caramu. Mencintaimu beserta seluruh caramu.
Menjalin hubungan adalah belajar. Belajar menjadi dewasa. Belajar mengalahkan ego.
Setiap wanita ingin dimengerti. Dan setiap laki-laki ingin dihormati. Sering kita lupa bagaimana dunia bekerja. Bahwa, siapa yang menanam dialah yang menuai. Seperti apa kita memperlakukan orang lain. Adalah seperti apa kita akan diperlakukan oleh orang lain.
Setiap wanita ingin dimengerti. Seringkali lupa untuk juga mengerti laki-laki. Setiap laki-laki ingin dihormati. Seringkali lupa untuk juga menghormati wanita. Begitulah hubungan berjalan, masing-masing merasa tersiksa. Masing-masing merasa paling banyak berkorban. Maka, yang kita butuhkan adalah hubungan timbal balik. Mengerti untuk dimengerti. Dan menghormati untuk dihormati.
Hari ini aku belajar. Untuk lebih melihat banyak hal dari banyak sudut.
Untuk saat ini, dan seterusnya..
Aku ingin lebih banyak belajar.
Denganmu.

ADIKKU,

0

Melihatmu saat ini seperti melihatku di usiamu
Merasa betapa orang tua sama sekali tak mengerti kita
Betapa orangtua begitu kolot
Seakan pola pikir berhenti di zaman beliau muda
Setiap saat mempertengkarkan aturan yang orangtua buat
Pada perintah, kita berpikir zaman sekarang hal seperti itu sudah bukan tradisi
Pada larangan, kita berpikir yang seperti itu sudah biasa dilakukan saat ini
Pada kekhawatiran, ayah.. ini bukan sesuatu untuk dikhawatirkan. Ini hal kecil. Ada banyak hal besar yang lebih perlu dikhawatirkan
Sering kita berpikir khawatir hanyalah alasan yang beliau buat atas semua perintah dan larangan
Kita tak tahu maksud semua aturan yang orangtua buat
Karena kamu saat ini dan aku diusiamu,
Hanyalah dua remaja yang untuk berpikir sendiripun tak bisa
Kita begitu labil
Pergaulan adalah prioritas kita,
Sedang orangtua tak tau sama sekali bagaimana pergaulan zaman kita
Tapi percayalah,
Orangtua adalah satu-satunya yang mengkhawatirkan sarapanmu dan makan siangmu
Di depanmu, ibu hanya terus memarahi karena malasmu
Tak lekas mandi, tak cepat makan sarapanmu, kamu yang hanya fokus pada televisi
Yang tak kamu tahu, dihari sebelumnya sebelum belanja, ibu selalu memikirkan bekal apa yang akan kamu bawa besok
Memastikan agar kau senang dengan bekal yang beliau berikan
Setiap hari, yang ku lihat antara ayah dan kamu hanyalah pertengkaran
Aku tak menyalahkanmu, aku setuju denganmu
Karena aku tau apa yang kau rasakan
Di usiamu, akupun sama denganmu
Syukurnya, aku tak berada dirumah
Dan pertengkaran dengan ayahpun hanya ketika pulang
Tentang ayah,
Usia beliau terpaut begitu jauh dengan kita
Terlampau jauh untuk ukuran ayah dan anak
Aturan yang beliau buat terasa sangat tak masuk akal di pikiran kita
Sedang, untuk bicara baik-baik tentang penolakan, seperti memecah batu besar
Tapi, semakin bertambah usiamu
Semakin kamu bertemu dengan orang-orang yang membuatmu dewasa
Kau akan semakin bisa menerima jalan pikiran orangtua
Buka karena kita setuju
Tapi lebih karena kita semakin tau perjuangan orangtua atas kita
Betapa besar beliau memikirkan kita
Ayah dengan sifat kerasnya, adalah yang begitu lunak dengan kebutuhan kita
Ibu yang begitu penurut pada ayah, adalah yang paling mendengarkan kita
Pada saatnya, ibu akan lebih menuruti kita, bersedia menyembunyikan cerita kita atas ayah
Ayah yang semakin berkurang tenaganya, dari pikiran dan keringat beliaulah kita dapat hidup layak, kita mengenyam pendidikan
Ibu yang selalu sibuk didapur, dari tangan hangat beliau kita makan sesuatu yang akan sangat kita rindukan ketika jauh
Dan pada suatu kesalahan yang kita tak sanggup bertanggung jawab, orangtua lah yang bertanggung jawab atas kita.
Semakin bertambah usiamu
Kamupun akan lebih sedikit bertengkar dengan orangtua
Sekali lagi, bukan karena setuju
Tapi lebih pada ketidakmampuan menolak
Dan ingatan tentang kewajiban kita atas beliau.

0

Jadi, apakah kau sekarang sedang menjalin hubungan?
Hm, kurasa begitu. Ada apa?
Syukurlah. Dia lebih tampankah? Sudah lama aku menyukai .. bantu aku bicara padanya.
Kau salah minta tolong padaku, kita memang pernah dekat, tapi bahkan sekedar menyapa pun sekarang tak pernah. Bukankah kau satu sekolah? Lebih dekat bukan?
Tapi aku selalu gugup tiap bertemu.
Kenapa kau bicara padaku tentang ini sekarang?
Aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja.
Berapa lama kau menyimpannya?
Lama.
Kawan, bahkan gunung meletus pun tak bisa memilih kemana abunya akan terlempar. Dan angin sekalipun tak bisa seenaknya berputar arah membawa pergi abu.
Maksudku,
Jatuh cinta, siapa bisa rencanakan. Akupun tak bisa memilih harus jatuh cinta dengan siapa. Dan, bagaimana bisa kau sembunyikan rasamu bertahun-tahun, hanya karena kau ingin menjaga perasaan. Sedang, kau sendiri tak tau apakah yang kau khawatirkan, masih memiliki rasa. Bahkan ini sudah bertahun-tahun sejak aku dan dia terakhir bertemu.
Jatuh cinta adalah tentang menjadi bijak, begitukah kawan? Karena kau sedang berjudi dengan hati. Ada begitu banyak hal yang otak perlu pertimbangkan. Sedang hati seringkali tak sejalan. Pada akhirnya, kita hanya akan membohongi diri sendiri, atau menampik semua yang ditawarkan logika.
Kau bijak. Tentu saja akan mematuhi logika. Tak peduli berapa lama hatimu akan kesakitan. Tak peduli suatu saat dadamu akan meledak karena terlalu sesak.

PURA-PURA

0

Masing-masing kita penuh kepura-puraan. Tak perlu disalahkan. Memang sudah kodrat. Pada dasarnya semua demi kebaikan.
“Untuk menghargai perasaan orang lain. Atau untuk menyelamatkan harga diri kita.”
Sebenarnya, siapa peduli dengan diri kita sesungguhnya. Selama kita hidup tanpa mengganggu orang lain, tanpa menyakiti perasaan. Berpura-pura pun tak ada yang melarang.
Pura-pura. Sebenarnya mungkin menjadi cara bertahan hidup paling gampang. Cara beradaptasi paling mudah. Jangan disalahkan karena tidak menjadi diri sendiri. Siapa peduli dengan menjadi diri sendiri atau tidak selama orang lain nyaman dengan kita.
Seperti pedagang, tugas kita adalah memuaskan konsumen. Bagaimana mereka menyukai produk kita. Dan bagaimana kita menariknya menjadi pelanggan.
Karena kita harus bertahan hidup.
Kita memang sedang pura-pura. Kita tertawa dengan perkataan orang baru, bukan karena lucu, tapi agar mereka menerima kita. Kita terus-menerus tersenyum, memasang wajah ramah, sekali lagi agar kita diterima. Kita bertanya untuk sesuatu yang sebenarnya tak ingin tahu, agar memiliki kesempatan untuk semakin dekat. Menjaga sikap didepan orang banyak, agar mereka terkesan.
Sebenarnya, didunia belahan mana manusia tak hidup dengan modus? Selalu ada alasan di balik semua sikap dan perilaku. Sedang, tak semu orang menganggap menyenangkan perilaku kita.
Tapi, kepuasan konsumen bukan hanya karena produk. Bagaimana sikap kita melayani. Bagaimana kita memasukkan perasaan pada kegiatan jual beli.
Sampai percaya pada seseorang, pura-pura akan tetap menjadi satu-satunya pilihan. Berpura-pura diawal, dan menjadi diri sendiri pada akhirnya, kepada yang telah mengenal dan memahami.
Pada suatu saat, kita memang sedang pura-pura. Bukan berarti kita hidup dengan kepura-puraan. Kita menganggap pura-pura itu perlu. Dan pada saatnya, kitapun tak menganggap perlu pura-pura. Ketika kita yakin orang lain akan menerima apapun keadaan kita.
Atau kau tak menganggap itu kepura-puraan?
Jadi siapa kita? Kita adalah aku dan aku. Dan, ya.. Aku sedang pura-pura.