Selasa, 02 Agustus 2016

0



Hari ini aku berbincang denganmu.
Bahwa menjalin hubungan adalah tentang belajar. Belajar meminta maaf. Belajar berterimakasih.
Untuk menjadi bahagia, seringkali lebih baik tidak terlalu berharap. Harapan yang terlalu tinggi, hanya akan menjadi tirai atas kebahagiaan yang sebenarnya sudah didepan mata.
Setiap kita, mempunyai harapan dicintai. Sedang, setiap kita, punya cara sendiri dalam mencintai. Setiap kita, punya cara sendiri dalam mengungkap rasa.
Hari ini aku belajar, memutus harapan yang terlalu. Menerima ungkapan rasa dengan caramu. Mencintaimu beserta seluruh caramu.
Menjalin hubungan adalah belajar. Belajar menjadi dewasa. Belajar mengalahkan ego.
Setiap wanita ingin dimengerti. Dan setiap laki-laki ingin dihormati. Sering kita lupa bagaimana dunia bekerja. Bahwa, siapa yang menanam dialah yang menuai. Seperti apa kita memperlakukan orang lain. Adalah seperti apa kita akan diperlakukan oleh orang lain.
Setiap wanita ingin dimengerti. Seringkali lupa untuk juga mengerti laki-laki. Setiap laki-laki ingin dihormati. Seringkali lupa untuk juga menghormati wanita. Begitulah hubungan berjalan, masing-masing merasa tersiksa. Masing-masing merasa paling banyak berkorban. Maka, yang kita butuhkan adalah hubungan timbal balik. Mengerti untuk dimengerti. Dan menghormati untuk dihormati.
Hari ini aku belajar. Untuk lebih melihat banyak hal dari banyak sudut.
Untuk saat ini, dan seterusnya..
Aku ingin lebih banyak belajar.
Denganmu.

ADIKKU,

0

Melihatmu saat ini seperti melihatku di usiamu
Merasa betapa orang tua sama sekali tak mengerti kita
Betapa orangtua begitu kolot
Seakan pola pikir berhenti di zaman beliau muda
Setiap saat mempertengkarkan aturan yang orangtua buat
Pada perintah, kita berpikir zaman sekarang hal seperti itu sudah bukan tradisi
Pada larangan, kita berpikir yang seperti itu sudah biasa dilakukan saat ini
Pada kekhawatiran, ayah.. ini bukan sesuatu untuk dikhawatirkan. Ini hal kecil. Ada banyak hal besar yang lebih perlu dikhawatirkan
Sering kita berpikir khawatir hanyalah alasan yang beliau buat atas semua perintah dan larangan
Kita tak tahu maksud semua aturan yang orangtua buat
Karena kamu saat ini dan aku diusiamu,
Hanyalah dua remaja yang untuk berpikir sendiripun tak bisa
Kita begitu labil
Pergaulan adalah prioritas kita,
Sedang orangtua tak tau sama sekali bagaimana pergaulan zaman kita
Tapi percayalah,
Orangtua adalah satu-satunya yang mengkhawatirkan sarapanmu dan makan siangmu
Di depanmu, ibu hanya terus memarahi karena malasmu
Tak lekas mandi, tak cepat makan sarapanmu, kamu yang hanya fokus pada televisi
Yang tak kamu tahu, dihari sebelumnya sebelum belanja, ibu selalu memikirkan bekal apa yang akan kamu bawa besok
Memastikan agar kau senang dengan bekal yang beliau berikan
Setiap hari, yang ku lihat antara ayah dan kamu hanyalah pertengkaran
Aku tak menyalahkanmu, aku setuju denganmu
Karena aku tau apa yang kau rasakan
Di usiamu, akupun sama denganmu
Syukurnya, aku tak berada dirumah
Dan pertengkaran dengan ayahpun hanya ketika pulang
Tentang ayah,
Usia beliau terpaut begitu jauh dengan kita
Terlampau jauh untuk ukuran ayah dan anak
Aturan yang beliau buat terasa sangat tak masuk akal di pikiran kita
Sedang, untuk bicara baik-baik tentang penolakan, seperti memecah batu besar
Tapi, semakin bertambah usiamu
Semakin kamu bertemu dengan orang-orang yang membuatmu dewasa
Kau akan semakin bisa menerima jalan pikiran orangtua
Buka karena kita setuju
Tapi lebih karena kita semakin tau perjuangan orangtua atas kita
Betapa besar beliau memikirkan kita
Ayah dengan sifat kerasnya, adalah yang begitu lunak dengan kebutuhan kita
Ibu yang begitu penurut pada ayah, adalah yang paling mendengarkan kita
Pada saatnya, ibu akan lebih menuruti kita, bersedia menyembunyikan cerita kita atas ayah
Ayah yang semakin berkurang tenaganya, dari pikiran dan keringat beliaulah kita dapat hidup layak, kita mengenyam pendidikan
Ibu yang selalu sibuk didapur, dari tangan hangat beliau kita makan sesuatu yang akan sangat kita rindukan ketika jauh
Dan pada suatu kesalahan yang kita tak sanggup bertanggung jawab, orangtua lah yang bertanggung jawab atas kita.
Semakin bertambah usiamu
Kamupun akan lebih sedikit bertengkar dengan orangtua
Sekali lagi, bukan karena setuju
Tapi lebih pada ketidakmampuan menolak
Dan ingatan tentang kewajiban kita atas beliau.

0

Jadi, apakah kau sekarang sedang menjalin hubungan?
Hm, kurasa begitu. Ada apa?
Syukurlah. Dia lebih tampankah? Sudah lama aku menyukai .. bantu aku bicara padanya.
Kau salah minta tolong padaku, kita memang pernah dekat, tapi bahkan sekedar menyapa pun sekarang tak pernah. Bukankah kau satu sekolah? Lebih dekat bukan?
Tapi aku selalu gugup tiap bertemu.
Kenapa kau bicara padaku tentang ini sekarang?
Aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja.
Berapa lama kau menyimpannya?
Lama.
Kawan, bahkan gunung meletus pun tak bisa memilih kemana abunya akan terlempar. Dan angin sekalipun tak bisa seenaknya berputar arah membawa pergi abu.
Maksudku,
Jatuh cinta, siapa bisa rencanakan. Akupun tak bisa memilih harus jatuh cinta dengan siapa. Dan, bagaimana bisa kau sembunyikan rasamu bertahun-tahun, hanya karena kau ingin menjaga perasaan. Sedang, kau sendiri tak tau apakah yang kau khawatirkan, masih memiliki rasa. Bahkan ini sudah bertahun-tahun sejak aku dan dia terakhir bertemu.
Jatuh cinta adalah tentang menjadi bijak, begitukah kawan? Karena kau sedang berjudi dengan hati. Ada begitu banyak hal yang otak perlu pertimbangkan. Sedang hati seringkali tak sejalan. Pada akhirnya, kita hanya akan membohongi diri sendiri, atau menampik semua yang ditawarkan logika.
Kau bijak. Tentu saja akan mematuhi logika. Tak peduli berapa lama hatimu akan kesakitan. Tak peduli suatu saat dadamu akan meledak karena terlalu sesak.

PURA-PURA

0

Masing-masing kita penuh kepura-puraan. Tak perlu disalahkan. Memang sudah kodrat. Pada dasarnya semua demi kebaikan.
“Untuk menghargai perasaan orang lain. Atau untuk menyelamatkan harga diri kita.”
Sebenarnya, siapa peduli dengan diri kita sesungguhnya. Selama kita hidup tanpa mengganggu orang lain, tanpa menyakiti perasaan. Berpura-pura pun tak ada yang melarang.
Pura-pura. Sebenarnya mungkin menjadi cara bertahan hidup paling gampang. Cara beradaptasi paling mudah. Jangan disalahkan karena tidak menjadi diri sendiri. Siapa peduli dengan menjadi diri sendiri atau tidak selama orang lain nyaman dengan kita.
Seperti pedagang, tugas kita adalah memuaskan konsumen. Bagaimana mereka menyukai produk kita. Dan bagaimana kita menariknya menjadi pelanggan.
Karena kita harus bertahan hidup.
Kita memang sedang pura-pura. Kita tertawa dengan perkataan orang baru, bukan karena lucu, tapi agar mereka menerima kita. Kita terus-menerus tersenyum, memasang wajah ramah, sekali lagi agar kita diterima. Kita bertanya untuk sesuatu yang sebenarnya tak ingin tahu, agar memiliki kesempatan untuk semakin dekat. Menjaga sikap didepan orang banyak, agar mereka terkesan.
Sebenarnya, didunia belahan mana manusia tak hidup dengan modus? Selalu ada alasan di balik semua sikap dan perilaku. Sedang, tak semu orang menganggap menyenangkan perilaku kita.
Tapi, kepuasan konsumen bukan hanya karena produk. Bagaimana sikap kita melayani. Bagaimana kita memasukkan perasaan pada kegiatan jual beli.
Sampai percaya pada seseorang, pura-pura akan tetap menjadi satu-satunya pilihan. Berpura-pura diawal, dan menjadi diri sendiri pada akhirnya, kepada yang telah mengenal dan memahami.
Pada suatu saat, kita memang sedang pura-pura. Bukan berarti kita hidup dengan kepura-puraan. Kita menganggap pura-pura itu perlu. Dan pada saatnya, kitapun tak menganggap perlu pura-pura. Ketika kita yakin orang lain akan menerima apapun keadaan kita.
Atau kau tak menganggap itu kepura-puraan?
Jadi siapa kita? Kita adalah aku dan aku. Dan, ya.. Aku sedang pura-pura.

AYAH

0

Ayah,
Hidup adalah tentang bahagia kan?
Apakah anakmu bahagia dengan hidupnya
Apakah semua yang kau beri mampu mencukupinya
Tapi bagaimana dengan kebahagiaanmu ayah?
Hidup adalah tentang menutupi kesedihan?
Kau ingin memastikan hidup anakmu terjamin
Yang anakmu tak tau,
Mewujudkannya, kau harus bersimbah darah
Membuang malu
Ayah, jika boleh kembali
Aku ingin kembali kemasa
Ketika semua belum menjadi kebiasaan
Ketika semua perilaku masih dibiasakan
Aku ingin terbiasa memelukmu ayah
Terbiasa bercengkrama, berbicara denganmu

Disini Saja

0



Pernah, kita menikmati senja. Bersama. Di depan jendela kayu. Menunggu waktu.
Kau tak ingat. Tapi aku selalu ingat. Karena satu-satunya. Berbicara. Menghadap langit yang pelan berubah. Menjadi jingga.
Aku bersedih untukmu yang pelan abai.
Dan ketika langit menghitam. Kita pergi.
Akankah..

Jangan Percaya!

0

Kau datang karena perjumpaan
Pantai dan laut
Puncak dan awan
Daun dan langit
Tebing dan air
Mereka indah karena berjumpa
Tapi jangan percaya!
Kau bisa saja terpeleset ketika mendaki
Tenggelam ketika berenang
Mereka terjal
Curam
Dalam
Buas! Teramat buas.
Kau tak pernah tau apa yang akan kau jumpai
Dalam perjalananmu mengenal
Jangan percaya permukaan.
Setidaknya, jangan buat persepsi.

0

Itu karena kau pakai hati, sedang dia pakai logika!
Apa salahnya? Toh tak selamanya logika dan hati berseberang.
Kawan, coba pakai logikamu. Kau dan dia hanya sekali bertemu. Apa yang kau harap dari pertemuan pertama? Kecuali kau bisa tinggalkan kesan. Kau bilang akan datang padanya dengan cara elegan. Nyatanya?
Aku tak pernah menjadi elegan.
Kau hanya terlalu buru-buru. 
Benar kau telah lama perhatikan dia. Tapi itu hanya kau yang tau. Sedang dari pertemuan yang biasa itu, kau berharap dia mengingatmu.
Aku terlalu berlebihan?
Tentu saja. Tinggalkan kesan kalau kau mau diingat. Jika itu sulit, buatlah dia terbiasa dengan kehadiranmu. Jangan paksa dia untuk perhatikanmu. Hanya buatlah dia nyaman hingga dia akan selalu menantimu.

0

Pada kegelapan mereka bertanya. Dari manakah asal semuanya. Dan kemana semua bermuara.
Dalam kekosongan akhirnya pintu terketuk. Siapakah didalam.
Seringkali tak muncul ketika hari terang. Silau. 
Bersorak. Lupa.

0

Kau orang yang menetap. Disaat semua orang berlalu lalang melewatimu, kau tetap diam. Di kursi itu. Kenapa kau tak ingin beranjak? Apa yang kau tunggu?
Sudah lama sebenarnya aku ingin menghampirimu. Tapi untuk alasan apa. Apa yang akan dibicarakan. Kau diam. Di kursi itupun, ditempat yang ramai, kau tak perhatikan sekitarmu. Mungkin kau tak akan tau seandainya ada kecelakaan di belakangmu.
Jadi dengan apa aku mendekatimu. Tak mungkin bukan aku hanya akan datang dan menyapamu kemudian menanyakan hal pribadimu. Yang ada kau akan bingung. Menganggap aku orang aneh.
Lalu apa yang harus ku perbuat agar kau mau beranjak dari kursimu. Atau paling tidak, bagaimana bisa mengajakmu bicara. Membicarakan sekitar. Sekitar hati (?).
Kau tak suka basa basi. Kelihatannya. Bagaimana bisa mengajakmu bicara tanpa terkesan basa basi. Sedang aku tak pernah melihatmu di tempat lain selain disini. Beritahu aku siapa dirimu. Bagaimana membuka apapun yang sedang kau tutupi. Tunjukkan sedikit saja tanda agar kau mau beranjak. Untuk menyapa hatiku.

0

Aku sedang berkaca ketika kiriman ini datang. Dari siapakah. Tak ada nama pengirim. Tak ada alamat juga. Bagaimana bisa sampai sini. Bahkan alamatku pun tak ada. Ini kiriman berupa gumpalan hitam. Apa maksud pengirimnya. Ah ternyata bukan kiriman. Sesuatu ini menempel. Erat. Tak bisa kulepas. Apakah ini? Benda ini baru kutemui, tapi terasa familiar.
Kuputuskan pergi. Syukurlah tak lagi melihatnya. Tapi jauh didalam. Aku merasa benda itu tetap ada. Biarlah. Aku tak mau tau.

0



Hai! Apa kabar?
Eh. Siapa kau?
Kita dekat bukan?
Bergurau.
Kita dekat. Nama kita disandingkan di lauh mahfudh.
|Perkenalan macam apa|
Oke kita sudah berkenalan. Teman imaji. Hus itu judul buku. Tak apalah. Pinjam nama. Bagaimana selanjutnya? Dia terlalu beku. Kuguyur air panas? Yang serius saja. Dia bisa mati. Lalu biar cair? Kau mau cair cepat tapi dia mati, apa cair lambat tapi kau dapat hati? Yang kedua tentu. Gunakan hatimu juga. Ini kertas. Selalu ingat. Bawa kemanapun kau pergi. Tak usah kertasnya yang kau bawa. Cukup isinya. “Hanya ingatlah kebaikannya. Lupakan kebaikanmu”. Itu kunci. Semoga berhasil!

0

Haruskah ku perkenalkan diriku padamu? Eh, tapi aku ragu. Kelihatannya kau mulai punya teman. Minggu lalu aku melihatmu hanya dengan dua layar. Layar handphone dan layar laptopmu. Dipelataran gedung yang free wifi itu. Sepulang sibukmu kau selalu disitu. Barang sejam dua jam. Kau bahagia tiap kali memandang (layar). Bukan memandang aku. Haha.
Ada apakah sebenarnya di dalam layar itu. Apa kau sedang video call? Atau melihat film lucu? Kalau soal melucu, aku bisa melakukannya untukmu. Sebentar. Kau kan tak tau aku.
Tapi hari ini kau bersama teman. Dia datang setelahmu. Agaknya kau baru kenal. Dari obrolanmu terlihat hanya basa basi. Kalau aku tiba-tiba datang kepadamu, maukah kau juga basa-basi denganku? Tapi hati-hati saja, aku tak akan datang hanya sekali. Tiap kali kamu disitu akan kudatangi. Bagaimana? Mending tak usah. Iya? Oke. Kalau begitu, aku akan mencari cara datang kepadamu dengan elegan. Memperkenalkan diriku seakan aku orang penting yang serba tau. Jadi kau bisa mengandalkanku. Tunggu saja. Tetaplah di kursi itu.

0

Sudah empat purnama aku melihatmu. Di hari dan waktu yang sama. Datang pukul 4 sore dan pulang pukul 6. Rupanya kau sedang mengambil waktu sendirimu. Untuk mengenang yang lalu, merencanakan yang akan. Tapi kenapa kau datang ketika senja? Ada apa dengan mentarimu? Sudah tentu mentari terbenam. Menghadirkan senja. Bukankah itu indah? Dan fajar esok. Mentari akan terbit. Itu adalah keindahan yang lain.
Ceritakan padaku, ada apa dengan kafe ini, jendela, kursi, meja, pukul 4 sore, pukul 6 sore, hari sabtu, handphone dan senja yang selalu kau nanti. Eh, apakah kau tak penasaran dengan aku yang selalu mengintai? Tak penasarankah berapa jumlah foto yg telah ku ambil? Dengan latar yang sama tapi baju yang berbeda.

0


Dua tahun terakhir seperti dikecewakan dengan yang diyakini pasti. Ternyata tak mudah beradaptasi. Dan ini yang di adaptasikan adalah pola fikir. Terbiasa berfikir sesuai pola, mengikuti yang sudah ada. Tak terasa ada beda sebenarnya. Sampai hari-hari belakangan. Ketika merasa satu persatu kacau. Bukan kekacauan yang besar. Tapi cukup untuk membuat berpikir betapa berbeda cara dengan mereka. Dia bilang jangan terlalu idealis. Jangan terlalu percaya diri. Oke. Tak lagi.
Pada sesuatu yang lain. Ketika berpikir betapa ini keahlianku. Ternyata mereka tak melihat. Aku yakin tak ada yang salah. Ternyata. Mereka tak mencari yang benar, tapi mencari yang sesuai inginnya.
Maka selama dua tahun terakhir. Aku menyesuaikan pada keinginan mereka. Ini jauh lebih mudah karena aku mulai tau dan belajar apa yang mereka inginkan. Pada akhirnya aku mulai menghilangkan kepercayaanku pada yang kuyakini pasti. Dan mulai menempatkan percayaku pada kedinamisan. Ini harus kulakukan. Untuk mencegah kekacauan yang lebih besar.

Gadis yang Hidup dalam Ide

0

Mungkin, orang gila bukanlah karena ia tidak pernah berpikir. Bisa jadi, orang gila karena dia terlalu banyak berpikir. Terlalu banyak menerima konsep dari banyak otak. Sehingga, untuk memilahnya pun dia terkadang kesusahan.
Gadis itu, lahir dan dibesarkan dengan banyak aturan dan ide. Dia bisa saja setuju pada konsep, tapi mengikuti aturan, urusan belakang. Dia peduli pada aturan, tapi jarang taat. Karena sekali lagi, dia lebih banyak hidup dalam ide. Bukan realita.
Bercitacita lah yang tinggi karena Tuhan akan memeluk mimpimu. Berbuat baiklah pada orang lain kalau kau ingin dibaiki. Berbuat ini dosa. Ideal. Dia tau semuanya. Sejak kecil dia banyak menerima konsep. Sampai besarpun dia banyak membaca ide. Sekalipun dia tau, berbuat dosa akan membuat kita masuk neraka. Tapi bahkan tanpa dosa, manusia tak akan dengan sukarela kembali pada Tuhannya, untuk memohon ampun. Tanpa kesalahan, bagaimana seseorang tanpa rasa rendah hati yang tinggi bisa teringat untuk memohon ampun. Sedang kebanyakan kita adalah manusia yang arogan, bangga dengan diri sendiri. Dengan penyesalan, seseorang bisa lebih dekat dengan penciptanya. Begitu dia pernah baca. Dan dia pegang betul. Untuk pembenaran atas semua dosanya. Sekalipun ia akan melakukan dosa lagi setelah mohon ampun.
Konsep. Ide. Teori. Tak pernah benarbenar jelas. Selalu buram. Selalu ada pembenaran di satu sisi, dan kesalahan di sisi lain. Percaya pada satu waktu, dan mengingkari di lain waktu. Jadi begitu dia hidup selama ini. Menerima teori, terkadang mempercayainya, dan terkadang menolaknya.
Hanya untuk satu hal, tak banyak teori yang memperdebatkannya. Dan pada satu teori ini dia dibikin gila. Hari akhir dan hari-hari yang mengikutinya. Yaumul ba'ts, yaumul mizan, padang mahsyar. Dan bagaimana manusia dibangkitkan setelah kiamat. Hanya dengan memikirkan semua itu ia akan ingat. Bahwa tak semua teori yang ia percaya adalah benar. Sedang ia tak tau mana teori yang benar-benar benar. Dia benar-benar bingung dengan apa yang diinginkan Tuhan. Tapi kenapa Tuhan begitu pasti tentang hari kiamat dan kematian. Kenapa tak semua saja dibuat pasti. Kenapa tak semua sepakat dengan satu konsep. Hingga ketika memikirkan kematian tak ada bimbang dari semua yang ia lakukan.

TITIK BALIK

0

Kita tentu punya sebuah peristiwa atau keadaan atau seseorang yang menjadi asal muasal kita berubah. Yang secara sukarela atau terpaksa menjadi alasan kita menjadi lebih baik atau lebih buruk. Titik balik. Entah sekarang atau dimasa depan, kita pasti menemuinya. Krisis. Kita pasti melaluinya. Entah karena kekecewaan, kematian, atau kekosongan. Teringat kata bijak seorang tokoh 
“Jadilah patah lalu tumbuh kembali. Menguninglah lalu hijau kembali. Bahkan terbakarlah tapi jangan mati”
Datangnya krisis itu sebuah keniscayaan. Langkah apa yang akan kita ambil itu pilihan. Suatu saat akan datang sebuah keadaan yang menyentak kita bahwa tak selamanya kita hidup senyaman yang kita bayangkan. Suatu saat akan datang peristiwa yang menyadarkan kita betapa hidup yang kita lalui begitu berantakan. Dan mungkin, suatu saat akan datang seseorang yang membantu merapikan hidup kita yang berantakan.

KEMATIAN

0

Aku banyak mendengar cerita tentang kematian. Melihat langsung keranda dengan kain hijau diangkat banyak orang. Dengan bunga-bunga tersebar di sepanjang jalan menuju pemakaman. Melihatnya, aku hanya “sedikit” bersedih dan “sedikit” ingat.
Tapi kematian, tak pernah bercanda. Sekali mati tak akan kembali. Kematian. Datang tanpa aba-aba. Pada waktu tak terduga. Dan sebab yang tak disangka-sangka. Kita mungkin tak akan peduli. Sampai kematian datang pada orang-orang terdekat atau orang-orang yang pernah setidaknya “mampir” di hidup kita.
Kematian tak pernah main-main. Ketika datang kematian, kita tau hidup tak pernah kembali. Pada kematian. Kusadar tak akan pernah ada kata siap. Terhadap kematian siapapun yang namanya pernah masuk di kehidupan kita. Tak kan pernah kerelaan benar-benar datang. Tak akan pernah tak merasakan kesedihan. Karena mati benar-benar membawa pergi kehidupan.

Terlihat Pintar

0

Apakah penting terlihat pintar? Ini pertanyaan seorang dosen. Sangat dilematis. Disatu sisi, seseorang pasti menilai orang lain dari bagaimana ia terlihat. Disisi lain, bukankah itu munafik jika pintar hanya dari keterlihatan. Oke, munafik terlalu kasar. Lagian, siapa yang peduli kalau seseorang pintar hanya kelihatannya? Abaikan. Ini bukan pertanyaan. Dan konsep ini salah. Bukankah seseorang terlihat pintar karena ia memang pintar. Apakah mungkin seseorang terlihat pintar dari kebodohannya. Tak mungkin bukan? Tapi pertanyaan dosen itu yang menggangguku. Kenapa beliau bertanya begitu? Bukankah itu artinya beliau mengakui adanya perbedaan antara yang terlihat pintar dengan yang benar-benar pintar. Dan yang mengagetkan, beliau menjawab sendiri pertanyaannya, bahwa terlihat pintar itu perlu. Lalu dari apa beliau menilai siswa? Ketika kau banyak bertanya kau akan kelihatan pintar. Seorang dosen berkata ketika kau bertanya itu tandanya kau berpikir. Tapi beliau tak tau, siswa jadi akan terobsesi untuk bertanya. Bukan karena ia tak tahu, tapi agar ia terlihat berpikir. Bahkan banyak yang mencari pertanyaan dengan browsing. Jadi apakah seorang dosen menilai seseorang dari seberapa banyak ia bertanya? Dari bagaimana ia terlihat pintar? Tapi apa sebenarnya pintar itu? Lucu. Aku bicara tentang pintar tapi tak mengerti apa itu pintar. Ketika kau disekolah kau akan tau seseorang pintar dari nilai tes nya. Karena pada waktu itu penilaian hanya dari hasil goresan pena. Tapi ketika kau di universitas, kau akan tau seseorang pintar dari seberapa sering ia bicara. Jadi apakah ia pintar atau hanya terlihat pintar? Jadi apakah jarak antara keduanya adalah keberanian berbicara? Atau obsesi bertanya, berdebat, menyanggah? Atau orang yang terlihat pintar pastinya benar-benar pintar? Jadi apa maksudku? Aku hanya terganggu.

Orang-orang di Sekitar

0

Dari orang-orang disekitar yang tak segan-segan mengingatkan ketika sikap diluar kendali, ketika laku merugikan orang lain, ketika berbuat selalu sesuka hati, aku belajar cara bersikap. Dari orang-orang disekitar yang selalu menjaga amarah, yang tak pernah mengeluh ketika mood memburuk, ketika menjadi orang paling tidak asik sedunia, aku belajar menjadi orang sabar. Hidup dan bertemu banyak orang, aku belajar menjadi manusia dewasa. Memiliki kesabaran yang tinggi, bahwa sebenarnya kesabaran akan tumbuh ketika pikiran selalu baik tentang orang lain. Bagaimana bisa begitu menghargai orang lain, bahwa mereka selalu menjaga diri dari berpikir buruk. Untuk orang-orang disekitarku, maafkan sikap yang begitu buruk. Maafkan telah begitu sering abaikan tutur. Untuk orang-orang disekitarku, terimakasih atas semua nasehat. Terimakasih atas kesabaran dan semua pembelajaran. Tetaplah menjadi guru, tetaplah memiliki kesabaran yang luar biasa. Ketika suatu saat aku benar-benar menjadi orang baik, untuk kalianlah sebesar-besarnya ucapan terimakasihku.

0

Happy 19th Unyilia Dinanaaa!! Sebenarnya aku mengkhianati teman-teman ketika menulis ini. Karena kita berencana untuk tidak membuat tulisan. Tapi aku tak bisa menahan diri untuk menulis tentangmu. Maafkan ucapan yang terlambat. Untuk our (veryvery) Best Sister Ever, Unyil. (seharusnya aku menyebut nama aslimu, tapi entahlah, aku lebih akrab dengan unyil, bukan dinana). Selamat Ulang Tahun!! 19 tahun!! Tenang, belum setua Dewi. Aku hanya ingin berterimakasih dengan semua kebaikanmu di masa 3 tahun kita. Kau nyil. Yang selalu bisa diandalkan ketika butuh. Tak terhitung berapa kebaikan yang telah kau beri. Rasanya tak kan mampu ku membalas. Sesering apapun aku merepotkanmu, tak pernah sekalipun aku melihat ekspresi marah di wajahmu. Betapa ku beruntung memiliki teman-teman yang begitu baik hatinya. Yang selalu ada disaat apapun. Kau, kalian adalah anugerah terindah. Keluargamu, yang membuatku iri kenapa aku tak punya keluarga seperti itu. Ibumu yang selalu menyambutku layaknya anak sendiri. Dengan segala keramahan tamahan, aku menemukan keluarga di tengah perantauanku. Unyil, dengan senyum lebar yang selalu mengembang. Ku harap kau selalu dipenuhi kebahagiaan, keceriaan. Dengan 19 tahun umurmu, semoga apa yang kau cita-citakan terwujud. Hariharimu selalu dipenuhi berkah. Semoga menjadi pribadi yang lebih baik, menjadi sumber kebahagiaan orang-orang sekitarmu. Sekali lagi selamat ulang tahun unyil yang super baik hatinya!!

Menjawab Kau

0

Bagaimana jika rasaku jauh melebihi apa yang kau bayangkan? Aku, dengan penyakitku yang tak mampu menunjukkan rasa. Kuanggap itu penyakit, karena tak seperti orang lain yang begitu mudah mendefinisikan rasa. Aku begitu penuh pertimbangan. Begitu penuh persepsi. Aku takut, jika kuungkap. Aku takkan mampu menahan diri. 
Bagaimana jika kau satu-satunya orang yang pernah ku ajak bicara? Kau berkata orang lain akan mudah nyaman berada didekatku. Nyatanya tidak. Aku begitu membosankan andai kau tau. Kau, yang mengetahui semua kurangku. Aku bingung. Kenapa kau tak menjauh? Aku tau seperti apa sebenarnya yang kau cari. Ya. Aku sudah tau alasanmu. Aku, yang awalnya tak ingin dekat dengan seorangpun laki-laki. Kau datang. Nyatanya, hatiku mencair. Kau tak tau betapa bekunya hatiku sebelum kedatanganmu. 
Kau yang menjadikanku temanmu dari ketidaktahuan. Benar. Aku tak tahu apapun tentang kau sebelumnya. Sampai akhirnya kau menyapaku. Aku tetap tak tau. Karena sekali lagi, hatiku benar-benar beku saat itu. Kau tanya apakah kita dekat? Bagaimana bisa aku yang harus menjawab? Padahal aku tak pernah sedekat ini dengan laki-laki. Jadi bagaimana jika kusebut kita dekat dari sudut pandangku yang tak pernah sedekat ini dengan siapapun? Apa kau setuju? Aku hanya ingin terus berjalan seperti ini. Kau yang selalu mengingatkanku. Entah kenapa, tapi setiap perkataanmu selalu kuingat. Kita sahabat? Ku harap. Bukankah sahabat selalu ada? Sahabat yang paling tau tentang kita bukan? Baiklah, kuanggap kau sahabatku. Percayalah. Rasaku tak beda dengan rasamu. Hanya saja aku tak tau cara mengungkapnya.

Mereka Punya Alasan

0

Langit biru. Bintang kecil. Pelangi berujung. Mereka ilusi. Tak nyata. 
Menilai seseorang. Kau tak bisa hanya melihat dari apa yang ia lakukan. Dari seperti apa ia menjadi. Kau harus banyak belajar dari hidup. Dari sudut pandang lain. Bahwa tak semua yang salah adalah buruk. 
Bertemu banyak orang. Kau akan paham. Untuk tindakan sekecil apapun terkadang seseorang memikirkannya. Lebih. Perbuatan sejelek apapun. Kau tak akan mampu mencelanya ketika kau tahu apa yang menjadi pertimbangannya. 
Menjadi baik atau buruk. Itu pilihan. Ada banyak hal yang mempengaruhi. Tuntutan. Setiap orang pada dasarnya baik. Namun garis hidup. Siapa yang bisa pilih. Allah yang tentukan. 
Jadi jangan kau benci pada mereka yang menurutmu buruk. Percayalah. Kau akan paham dan mengerti ketika kau tau karena apa.

Ketika Mentari Datang

0

Entah sejak kapan. Setiap emosi yang singgah, selalu ingin kubagi. Denganmu. 
Mengenalmu? Sedikit. Lalu kenapa ingin membagi? Entah.

Dulu aku sangat bahagia berada diantara ribuan bintang. Tapi sejak mentari datang. Aku lebih merindukan mentari untuk datang lagi. Dulu aku sangat puas hanya menatap ribuan bintang. Sekarang ketika tak melihat mentari, aku merasa siangku hilang.
Mereka berkata banyak perubahan, tapi bahkan orang buta pun tak bisa menepis silaunya mentari. Mereka mendukung, para bintang itu. Karena mereka tau, kita tau. Bahwa bintang tak bersinar untuk kita.
Tapi sebenarnya aku masih sangat menyukai bintang. Karena memang selama ini aku lebih bersama bintang. Kurindukan kala kelam. Bintang. Meramaikan hening. Mengisi kosong. Menangkap tumpahanku. Semua bintang.
Harus kuapakan mentariku? Tunggu sampai aku mampu menatapmu.

0

“Perempuan Oktober”. SELAMAT ULANG TAHUN Dewi-kuu! 20 tahun? Sudah kepala dua deeww!! Sekarang kalau mau menikah boleh :D
My Best!! Cewek berjiwa melankolis-romantis tapi ceria. Dengan segudang sajak-sajak tentang cinta. Partner makan yang baik. Yang selalu mengerti dan setuju pada kebutuhan para cacing-cacing perut. Entah apa jadinya masa SMA tanpa partner kaya kamu dew. Kurus, kering kerontang. Mungkin. Oke, lebay.
Dewi yang baik, yang selalu ada saat Kita butuh. Aku tau kalau kamu selalu memikirkan perasaan orang lain, selalu mementingkan oranglain  daripada kamu sendiri. Aku tau kalau kamu selalu baik sama semua orang. Karena kamu tau, setiap perbuatan pasti ada balasannya. Karena kamu sadar, suatu saat kita pasti butuh orang lain. Diam-diam aku belajar dari kamu. Tetaplah jadi Dewi yang baik hati! Itu ciri khas kamu dew.
Dewi yang dewasa, bertanggung jawab. Kamu sudah pantes jadi ibu. Kita anak-anakmu.
Dewi yang suka ngajak berpetualang. Kita siap jadi teman berpetualangmu. Selamanya!
Gapai cita-citamu dew! Teruslah bermimpi hebat. Teruslah menyusun rencana-rencana masa depan. Jangan biarkan apapun menghalangi jalanmu. Tetap jadi dirimu sendiri. Buat takdirmu. Karena semuanya mungkin untuk orang yang bekerja keras.
Be Kind and Be Brave Dewii!! (Ini kutipan film Cinderella)

0

Aku tumbuh dan besar dilingkungan tertutup. Pandanganku terhalang oleh tembok. Tapi sebenarnya mereka tak membatasi pikiranku. Aku tak akan membahas tentang hidup yang terkekang. Karena memang, meskipun ruang gerakkan dibatasi, aku adalah pribadi yang bebas. Bandel.
Aku hanya merasa selama ini apa yang kupelajari dari hidup. Terlalu banyak menerima konsep, teori. Tapi prakteknya, aku sama sekali tak tahu. Kau tahu kan? Realitas begitu kompleks dan jauh lebih jahat. Itu yang menggangguku.
Yang kutakutkan adalah, Kehidupan yang sebenarnya, tak akan melulu terpaku pada teori. Tapi bagaimana jika yang kupunya hanya teori?
Mungkin memang perlu, sesekali aku keluar. Merasakan hidup didunia yang sesungguhnya. Dengan seluruh beban dan tanggung jawab yang harus dipikul sendiri. Tak melulu menyerahkan seluruh masalah pada orangtua.
Takut. Sungguh. Ketika membayangkan suatu saat aku harus keluar dari zona nyaman. Ketika berpikir tak selamanya bisa menggantungkan hidup pada ayah, ibu. Ketika sadar, suatu saat hanya akan ada aku. Sendirian. Menghadap kejamnya dunia.

MAAFKAN

0

Maafkan aku yang tak tahu bagaimana sulitnya mengungkapkan. Maafkan aku yang membuatmu menyembunyikan yang memang sedang kau sembunyikan. Maafkan aku yang memaksamu mendengarkan apa yang sebenarnya sangat menyakitimu.

Buat yang Hari ini 21 Tahun

0

Kakakku yang “kecil”. Orang-orang sering bilang kalo aku kakak. Tak apa, ini salahku yang makannya gak pernah kira-kira. Dulu aku yang selalu pakek baju “lungsuran” kakakku. Sekarang, percaya atau tidak, kakakku lah yang pakek baju-bajuku. Aku gak muat pake baju dia. Ironis memang.
Cepat ya? Udah 21. Beruntung banget tau jadi kakak. Untuk usia yang seharusnya udah gak dapet uang lebaran, tapi gara-gara adik-adiknya dapet jadi ikutan dapet.
Dulu waktu masih kecil orang-orang sering bilang kalo kakakku suka marah, iya wajahnya cemberut terus kalau diluar rumah. Tapi aslinya dia baik banget. Baik asli. Yah, meskipun memang agak suka marah sih. Sekarang udah gede. 21 tahun. Wajahnya udah ramah, gak ditekuk kayak dulu. Ibuku sukanya curhat sama kakakku. Dia yang mau dengerin, yang bisa ngasih solusi juga. Aku mah? Childish banget. Bukan ahliku dengerin curhatnya ibu-ibu.
Selama ini gak pernah berpikir kalau kita beda usia. Kakakku, dia temanku. Tempat curhat, tempat rumpi. Secara tidak langsung sebenarnya kakakku mempengaruhi pola pikir dan sudut pandangku tentang bagaimana jadi mahasiswa. Aku sedikit banyak terinspirasi darinya. Tentang sikapnya yang menentang apa yang tidak disukainya, tentang reaksinya pada apa yang “menurutnya” salah. Ingat, menurutnya. Hanya menurutnya. Belum tentu yang menurutnya salah benar-benar salah. Aku terkadang suka kekerasan hatinya. Gara-gara kakakku juga aku jadi agak menaruh simpati, kagum pada orang-orang yang berpikiran ekstrem, tapi punya alasan.
Tentang masalah-masalahnya dalam berteman. Sejak sekolah dasar kakakku sering bermasalah dengan teman dekatnya. Bukan apa-apa. Tapi aku pernah berpikir, mengapa aku tak pernah bermasalah dengan teman-temanku? Apa aku terlalu menyeragamkan diri, tak begitu punya pendirian, terlalu takut mengambil resiko? Jawab ya kalau sudah baca tulisan ini.
Kakakku aktifis. Dia ikut organisasi-organisasi dikampusnya. Dia berani bicara didepan umum. Kalau disuruh kepasar dia dengan semangat berangkat. Aku? Selama masih ada kakakku, aku lebih suka bersih-bersih rumah daripada harus kepasar. Malu.
Kukasih tau rahasia. Aku pernah menangis dulu ketika kakakku berangkat ke jogja pertama kali. Biasanya, kalau aku pulang kerumah selalu ada kakakku. Nyuci piring bareng. Aku yang nyuci, kakakku nunggu piring bersih, dia yang nata di rak. Sebenarnya ini momen yang kusukai. Sambil nunggu piring bersih, kita ngrumpi. Ngomongin apa aja, siapa aja. Teman sekolah, pelajaran, guru, tetangga, sampai ngomongin bapak ibu, unek-unek kita. Tapi waktu kakakku udah gak dirumah, jadi cuci piring sendiri. Ditemani sepi. Nangis. Haha. Gak usah terharu, cuma sekali itu aku nangis.
Kita sama-sama gak suka kentang, gak suka agar-agar, gak suka biji-bijian. Kita suka Harry Potter banget ya? Tapi aku berhenti duluan. Kita selalu sependapat tentang bapak, tentang jalan pikirannya yang kaku, keras kepala, otoriter. Kadang aku berpikir, mungkin bapak lelah punya cewek-cewek kayak kita. Untuk urusan buku bacaan, kita beda banget. Kakakku suka tema serius. Aku suka yang ringan-ringan. Sampe yang punya rental buku syok kalo kita sodaraan.
Kakakku bener-bener baik. Mungkin itu karena namanya. Husnul Fauziyah. Kebaikan yang membawa keberuntungan. Dia baik banget, tak pelit. Untuk urusan tak pelit ini, aku sungguh-sungguh angkat empat jempol. Love you! Kuharap kakakku benar-benar penuh keberuntungan.
Kemaren maksa-maksa suruh beliin kado. Tapi sampai sekarang belum tak beliin. Bingung mau beli apa. Lagian aku kan mahasiswa belum berduit.
SELAMAT ULANG TAHUN KE 21!!
Semoga tercapai semua mimpi, bisa buat bapak ibu adik-adik bangga, lancar sekolah, wisuda tahun depan, jadi orang sukses, bahagia!!
Bahagia itu penting. Ngejar sukses gapapa, tapi jangan lupa untuk bahagia ya nul! Makan yang banyak, biar jadi besar kayak aku. Biar kuat, gak sakit-sakitan. Biar kelihatan juga kalau kamu kakak, aku adik. Jadi orang dewasa ya? Tapi jangan terlalu dewasa.
Sekali lagi SELAMAT 21 TAHUN!! Jadilah inspirator buat adik-adikmu yang masih kekanak-kanakan dan labil ini.

0

Layaknya filsafat yang dibatasi agama. Setiap laku juga dibatasi norma. Keinginan dibatasi prinsip.
Apakah menyesal? tentu saja.
Beberapa hal menyesakkan terjadi. Itu yang terbijak. Luka akan lebih sakit jika dibiarkan.
Setidaknya ada pembelajaran. Rela. Teguh. Lapang.
Demi segala kemungkinan.

(Bukan) Aku

0

Aku adalah dua kepribadian yang berbeda. Kau tak akan mengenaliku ditempat lain ketika kau mengenalku disini. 
Aku adalah ketidakpastian. Maka jangan jadikan sebagai tujuan.
Aku adalah jiwa yang bebas. Buanglah mimpi untuk mengikatku.

Lebih dari Sekedar Keinginan. Itu adalah Prinsip

0

Memang, setiap perasaan harus diungkapkan. Harus. Agar tak menjadi jerawat katanya. Kau tau kan betapa tersiksanya muka yang berjerawat? Oke, lupakan soal jerawat. Pun cinta. Kau harus mengungkapkan cinta pada orang yang kau cinta. Tapi, kenapa setiap pengakuan cinta selalu ada tujuan lain? Belum beres kah jika cinta hanya diungkapkan. Keinginan memiliki? Ingat! Kita semua milik Allah, tak ada yang lebih memiliki kita daripada Allah.

Ah, sebenarnya cukup sulit membedakan cinta dan obsesi. Kita mencinta, kita terobsesi. 

Tidak ada kata kepemilikan (baca: tidak pacaran). Bukankah itu seharusnya cara kita untuk melindungi diri sendiri dan orang lain? Dalam hal apapun dan dengan alasan apapun, agama kita –Islam– tak pernah menghalalkan pacaran. Bukannya orang suci, dan bukan pula sok suci. 

Berpacaran? Pernah. Dan justru itu yang membuat berpikir dua kali, untuk apa kita pacaran? Demi tujuan apa? Saling berkomitmen tanpa ada status kepemilikan. Bukankah itu lebih indah? Dan pada akhirnya, jika memang berjodoh, kita akan bersanding. Bukankah itu indah? Dan kalaupun tak berjodoh, ya sudah. Tak ada saling benci. Dikatakan tak berani mengambil resiko. Mengapa harus mengambil resiko untuk sesuatu yang kita tau sia-sia?

Semua akan indah pada waktunya. Kalau kebahagiaan sudah dihabiskan ketika berpacaran, apa yang akan kita dapat dalam pernikahan nanti? Dan bagaimana jika akhirnya tak berjodoh? Kita akan berpikir betapa sia-sianya waktu yang dihabiskan selama ini. Berpacaran bukanlah hal simpel. Selalu menguras banyak tenaga, emosi, uang.

Sering kukatakan pada temanku yang menangis karena cinta. Putus saja jika berpacaran membuatmu sedih. Entah, tapi setelah banyak berpikir, aku merasa pacaran adalah hal yang sangat sia-sia. Tak setuju? Tak apa. 

Tapi aku punya rahasia. Ada beberapa wanita yang ingin tahu dan melihat sekeras apa seorang pria berjuang untuknya. Sekeras apa pria menjaga perasaan, menjaga diri sendiri. Jadi maksudku, jangan terburu-buru menyerah pada orang yang benar-benar kau cinta. Berjuanglah. Kalau kau memang serius. Hargai keinginannya, hargai prinsipnya. Egois? Memang cinta terkadang egois.

Entahlah,

Tentang Cerita yang tidak Terselesaikan

0



Ada banyak cerita yang menolak dilupakan
Cerita yang seharusnya berakhir indah
Atau setidaknya meninggalkan kesan bahagia
Namun, karena keegoisan dan keserakahan
Cerita itu tak berujung. Bahkan hilang.

Tapi,
Ada kalanya kenangan-kenangan lama muncul mendadak
Mendesak untuk diingat
Ada kalanya merindukan seseorang dari masa lalu
Dia yang meninggalkan kesan

HUJAN

0

Aku suka berjalan ketika hujan,
Mendengar tetesan hujan dari bawah payung
Seakan dibisik, diajak bicara, dinyanyikan.
Padahal sendiri.

Aku suka aroma hujan yang bercampur tanah.
Sejuk, Damai, Nyaman.
Muncul perasaan yang sulit diungkapkan.

Aku suka melihat hujan yang jatuh dari atap.
Seperti tirai kaca.
Putih, Bersih, Jernih.
Tapi tidak menyilaukan.

Aku suka tidur ketika hujan bergemuruh.
Aku suka membaca, menghadap reruntuhan hujan.

Karena itu hujan.
Sama halnya kenapa kamu.

Menyakitkan

0

Pernah, seorang teman berkata tentang kemungkinan aku yang tidak normal. Namun, menyakitkan. Yang menjadi tolak ukurnya adalah aku yang tunggal. Yang tidak berpasangan. Aku yang mengidolakan idol grup cewek. Aku yang tidak dekat dengan seorangpun laki-laki.
Apakah salah jika seseorang memilih tunggal? Untuk menunggu kenikmatan ketika saatnya tiba. Apakah salah jika seseorang memilih untuk tidak dekat dengan seorangun laki-laki? Untuk menjaga martabat dan ke-eksklusifannya. Tak ada salahnya jugakan mengidolakan sebuah idol grup?
Kutahu, aku bukanlah seorang wanita yang sangat menerapkan ajaran Islam dalam keseharian. Bukan Rasulullah ataupun ustadz yang kuidolakan. Namun, bukankah lebih baik jika yang kujaga adalah pandangan pada orang disekitar.
Toh, bukannya aku tak mempunyai orang yang kusuka. Aku punya. Tapi, aku memilih diam.

Bebas

0

Adakah keinginan untuk menjadi seperti mereka, tatkala melihat kupu-kupu terbang kesana kemari diantara bunga-bunga yang indah,
melihat burung beterbangan di udara, bebas menuju kemanapun mereka mau.
melihat lebah mencari nektar, terbang ke bunga manapun yang mereka inginkan.
Adakah keinginan untuk kembali menjadi anak kecil ketika melihat mereka dengan ringan berlarian, riang dan gembira.
Namun, sebagai orang dewasa, bebas bukan berarti kita bisa melakukan apapun yang kita inginkan.
Kebebasan sesungguhnya adalah ketika kita bebas berpikir dan berpendapat.
Ketika kita bebas menentukan sendiri cita-cita kita.
Ketika pendapat dan keinginan seseorang tak mempengaruhi pikiran kita untuk terus bergerak maju.
Dan, ketika kita bebas berkeliling melihat kekayaan negeri kita.

Tentang Hidup

0



Tidaklah semua hal yang kita inginkan bisa tercapai. Merelakan bukan berarti menyerah, tetapi lebih pada mengakui bahwa tidak semua hal bisa kita paksakan. Seperti halnya hidup, tentu kita menginginkan yang terbaik, yang terindah, tetapi ketika kita dihadapkan pada suatu pilihan yang sulit, akankah keindahan itu tercapai. Semua pilihan hidup yang telah kita pilih, wajib hukumnya untuk dipertanggung jawabkan. Apapun hasilnya nanti..
Ketika kita gagal, yakin dan terus saja maju, mungkin kegagalan itu adalah sebuah titik menuju titik berikutnya dalam mewujudkan sketsa keberhasilan kita. Tak masalah jika kita punya mimpi yang tinggi, siapa takut? Jika gagal, Cari! Gali! sampai kita dapat menggapai cita-cita itu.
Yang terpenting dari kesemuanya, ajaklah Allah untuk menjadi partner terbaik kita. Konsultasikan dan pasrahkan semua pada-Nya, akankah kita masih ragu dengan segala titah-Nya? Masih yakinkah bahwa yang dianugrahkannya adalah hal dan jalan terbaik untuk kita. Bukankah semua ciptaan harus tunduk dan patuh pada pencipta-Nya? Pernahkah bunga bangkai mengeluh akan baunya? Bukankah begitu seharusnya. Namun karena manusia diciptakan dengan terbungkus nafsu, seringkali malah menyalahkan Tuhannya, menganggap bahwa Allah tidak adil padanya, Tuhan hanya ingin mempersulitkan dirinya. Benarkah itu Yaa ayyuhal ahsanul insan? Wa bidzalik, la ansa lidzikrullah…
Arich Yatimmatur R.
Pare, tatkala matahari mulai terlelap.

62 - 63

0



Ketika sedang dalam mata kuliah Sejarah Peradaban Islam, dan topik yang dibahasa adalah Islam pada masa Rasulullah SAW dan Khulafaur Rasyidin..
Dosen menjelaskan Rasulullah meninggal dalam usia 63 tahun, dan Khulafaur Rasyidin pun juga meninggal dalam usia tak jauh dari usia Rasulullah.
Aku teringat, ayahku sekarang sudah dalam usia 62 tahun. Apa yang sudah kulakukan selama ini? Adakah dari sikap dan pencapaianku yang telah membuatnya bangga? dan bahagia?
Dalam usia ayahku yang sudah pantas mempunya banyak cucu, aku bahkan belum mencapai kedewasaanku. Hanya diri sendiri yang selalu kupikir.
Apakah sempat aku menunjukkan kedewasaan dan kesuksesanku? Adakah waktu untuk mempersembahkan baktiku?

Sang Pohon..

0

Ketika sang pohon mulai menginginkan seseorang memberinya zat hara, bukan hanya air. Bukan karena ia kekurangan nutrisi. Ia ingin seseorang memberikannya kasih sayang, bukan hanya perhatian.
Ketika sang pohon ingin Tuhan memberinya hujan, bukan manusia yang memberinya air. itu karena ia merasa kering. Bukan kekeringan yang menyebabkan ia mati. Tapi kekeringan yang mengkusamkan daunnya karena debu beterbangan yang menempel padanya.
Ketika manusia menginginkan cinta, bukan karena haus perhatian ataupun kasih sayang. tapi untuk melunakkan kembali hatinya yang beku.

0

Ada sebuah pohon yang rindang. Ia bahagia dengan keadaanya, berada didekat pohon yang lain, saling berebut air dengan akar-akarnya yang panjang, menghitung siapa yang paling banyak disinggahi orang-orang untuk tempat berteduh, berebut karbon dioksida agar bisa berdaun lebih banyak dan menghasilkan oksigen yang memberi kesegaran.
Suatu saat sang pohon merasa ada yang kurang, ia tak bisa menghasilkan buah. Bahkan berbungapun ia tak sanggup. Ia tak bisa memberi keharuman, tak bisa memberi kekenyangan dan melepaskan dahaga. Ia tahu, sebenarnya itu bukan hal yang penting. Toh, manusia bisa hidup tanpa buah dan wewangian, tapi tak bisa hidup tanpa oksigen.
Tapi ada kalanya sang pohon ingin terlihat cantik, ia ingin dilihat karena kecantikannya, bukan sekedar sebagai tempat berteduh dan mencari kesegaran. Terkadang sang pohon ingin dirasakan betapa manis dan segar buahnya. Terkadang sang pohon ingin dihinggapi kupu-kupu dan kumbang untuk dibantu penyerbukan bunganya. Terkadang sang pohon ingin meneruskan keturunannya tanpa bantuan manusia..