Haruskah ku perkenalkan diriku padamu? Eh, tapi aku ragu. Kelihatannya kau mulai punya teman. Minggu lalu aku melihatmu hanya dengan dua layar. Layar handphone dan layar laptopmu. Dipelataran gedung yang free wifi itu. Sepulang sibukmu kau selalu disitu. Barang sejam dua jam. Kau bahagia tiap kali memandang (layar). Bukan memandang aku. Haha.
Ada apakah sebenarnya di dalam layar itu. Apa kau sedang video call? Atau melihat film lucu? Kalau soal melucu, aku bisa melakukannya untukmu. Sebentar. Kau kan tak tau aku.
Tapi hari ini kau bersama teman. Dia datang setelahmu. Agaknya kau baru kenal. Dari obrolanmu terlihat hanya basa basi. Kalau aku tiba-tiba datang kepadamu, maukah kau juga basa-basi denganku? Tapi hati-hati saja, aku tak akan datang hanya sekali. Tiap kali kamu disitu akan kudatangi. Bagaimana? Mending tak usah. Iya? Oke. Kalau begitu, aku akan mencari cara datang kepadamu dengan elegan. Memperkenalkan diriku seakan aku orang penting yang serba tau. Jadi kau bisa mengandalkanku. Tunggu saja. Tetaplah di kursi itu.
Ada apakah sebenarnya di dalam layar itu. Apa kau sedang video call? Atau melihat film lucu? Kalau soal melucu, aku bisa melakukannya untukmu. Sebentar. Kau kan tak tau aku.
Tapi hari ini kau bersama teman. Dia datang setelahmu. Agaknya kau baru kenal. Dari obrolanmu terlihat hanya basa basi. Kalau aku tiba-tiba datang kepadamu, maukah kau juga basa-basi denganku? Tapi hati-hati saja, aku tak akan datang hanya sekali. Tiap kali kamu disitu akan kudatangi. Bagaimana? Mending tak usah. Iya? Oke. Kalau begitu, aku akan mencari cara datang kepadamu dengan elegan. Memperkenalkan diriku seakan aku orang penting yang serba tau. Jadi kau bisa mengandalkanku. Tunggu saja. Tetaplah di kursi itu.



0 komentar:
Posting Komentar