Bagaimana jika rasaku jauh melebihi apa yang kau bayangkan? Aku, dengan penyakitku yang tak mampu menunjukkan rasa. Kuanggap itu penyakit, karena tak seperti orang lain yang begitu mudah mendefinisikan rasa. Aku begitu penuh pertimbangan. Begitu penuh persepsi. Aku takut, jika kuungkap. Aku takkan mampu menahan diri.
Bagaimana jika kau satu-satunya orang yang pernah ku ajak bicara? Kau berkata orang lain akan mudah nyaman berada didekatku. Nyatanya tidak. Aku begitu membosankan andai kau tau. Kau, yang mengetahui semua kurangku. Aku bingung. Kenapa kau tak menjauh? Aku tau seperti apa sebenarnya yang kau cari. Ya. Aku sudah tau alasanmu. Aku, yang awalnya tak ingin dekat dengan seorangpun laki-laki. Kau datang. Nyatanya, hatiku mencair. Kau tak tau betapa bekunya hatiku sebelum kedatanganmu.
Kau yang menjadikanku temanmu dari ketidaktahuan. Benar. Aku tak tahu apapun tentang kau sebelumnya. Sampai akhirnya kau menyapaku. Aku tetap tak tau. Karena sekali lagi, hatiku benar-benar beku saat itu. Kau tanya apakah kita dekat? Bagaimana bisa aku yang harus menjawab? Padahal aku tak pernah sedekat ini dengan laki-laki. Jadi bagaimana jika kusebut kita dekat dari sudut pandangku yang tak pernah sedekat ini dengan siapapun? Apa kau setuju? Aku hanya ingin terus berjalan seperti ini. Kau yang selalu mengingatkanku. Entah kenapa, tapi setiap perkataanmu selalu kuingat. Kita sahabat? Ku harap. Bukankah sahabat selalu ada? Sahabat yang paling tau tentang kita bukan? Baiklah, kuanggap kau sahabatku. Percayalah. Rasaku tak beda dengan rasamu. Hanya saja aku tak tau cara mengungkapnya.
Bagaimana jika kau satu-satunya orang yang pernah ku ajak bicara? Kau berkata orang lain akan mudah nyaman berada didekatku. Nyatanya tidak. Aku begitu membosankan andai kau tau. Kau, yang mengetahui semua kurangku. Aku bingung. Kenapa kau tak menjauh? Aku tau seperti apa sebenarnya yang kau cari. Ya. Aku sudah tau alasanmu. Aku, yang awalnya tak ingin dekat dengan seorangpun laki-laki. Kau datang. Nyatanya, hatiku mencair. Kau tak tau betapa bekunya hatiku sebelum kedatanganmu.
Kau yang menjadikanku temanmu dari ketidaktahuan. Benar. Aku tak tahu apapun tentang kau sebelumnya. Sampai akhirnya kau menyapaku. Aku tetap tak tau. Karena sekali lagi, hatiku benar-benar beku saat itu. Kau tanya apakah kita dekat? Bagaimana bisa aku yang harus menjawab? Padahal aku tak pernah sedekat ini dengan laki-laki. Jadi bagaimana jika kusebut kita dekat dari sudut pandangku yang tak pernah sedekat ini dengan siapapun? Apa kau setuju? Aku hanya ingin terus berjalan seperti ini. Kau yang selalu mengingatkanku. Entah kenapa, tapi setiap perkataanmu selalu kuingat. Kita sahabat? Ku harap. Bukankah sahabat selalu ada? Sahabat yang paling tau tentang kita bukan? Baiklah, kuanggap kau sahabatku. Percayalah. Rasaku tak beda dengan rasamu. Hanya saja aku tak tau cara mengungkapnya.



0 komentar:
Posting Komentar