Memang, setiap perasaan harus diungkapkan. Harus. Agar tak menjadi jerawat katanya. Kau tau kan betapa tersiksanya muka yang berjerawat? Oke, lupakan soal jerawat. Pun cinta. Kau harus mengungkapkan cinta pada orang yang kau cinta. Tapi, kenapa setiap pengakuan cinta selalu ada tujuan lain? Belum beres kah jika cinta hanya diungkapkan. Keinginan memiliki? Ingat! Kita semua milik Allah, tak ada yang lebih memiliki kita daripada Allah.
Ah, sebenarnya cukup sulit membedakan cinta dan obsesi. Kita mencinta, kita terobsesi.
Tidak ada kata kepemilikan (baca: tidak pacaran). Bukankah itu seharusnya cara kita untuk melindungi diri sendiri dan orang lain? Dalam hal apapun dan dengan alasan apapun, agama kita –Islam– tak pernah menghalalkan pacaran. Bukannya orang suci, dan bukan pula sok suci.
Berpacaran? Pernah. Dan justru itu yang membuat berpikir dua kali, untuk apa kita pacaran? Demi tujuan apa? Saling berkomitmen tanpa ada status kepemilikan. Bukankah itu lebih indah? Dan pada akhirnya, jika memang berjodoh, kita akan bersanding. Bukankah itu indah? Dan kalaupun tak berjodoh, ya sudah. Tak ada saling benci. Dikatakan tak berani mengambil resiko. Mengapa harus mengambil resiko untuk sesuatu yang kita tau sia-sia?
Semua akan indah pada waktunya. Kalau kebahagiaan sudah dihabiskan ketika berpacaran, apa yang akan kita dapat dalam pernikahan nanti? Dan bagaimana jika akhirnya tak berjodoh? Kita akan berpikir betapa sia-sianya waktu yang dihabiskan selama ini. Berpacaran bukanlah hal simpel. Selalu menguras banyak tenaga, emosi, uang.
Sering kukatakan pada temanku yang menangis karena cinta. Putus saja jika berpacaran membuatmu sedih. Entah, tapi setelah banyak berpikir, aku merasa pacaran adalah hal yang sangat sia-sia. Tak setuju? Tak apa.
Tapi aku punya rahasia. Ada beberapa wanita yang ingin tahu dan melihat sekeras apa seorang pria berjuang untuknya. Sekeras apa pria menjaga perasaan, menjaga diri sendiri. Jadi maksudku, jangan terburu-buru menyerah pada orang yang benar-benar kau cinta. Berjuanglah. Kalau kau memang serius. Hargai keinginannya, hargai prinsipnya. Egois? Memang cinta terkadang egois.
Entahlah,



0 komentar:
Posting Komentar